Sang Inspirasiku Fatmawati

    Belum banyak yang tahu bahwa perempuan ternyata juga memiliki peran yang penting dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Negara kita tercinta telah merdeka selama 72 tahun selama itu yang sering dikenal sebagai proklamator hanya Mohammad Hatta dan Ir Soekarno. Ternyata selama proses yang menegangkan ini, perempuan-perempuan Indonesia ikut berperan penting dalam suksesnya pembacaaan proklamasi Indonesia. Seperti halnya sosok yang menginpirasi hidup saya yaitu Fatmawati.

    Wanita yang memiliki nama asli Fatimah adalah istri presiden pertama Republik Indonesia, Bapak Ir Soekarno. Perempuan ini juga dikenal sebagai penjahit bendera Indonesia yang dikibarkan saat proklamasi dilakukan.

    Wanita kelahiran Bengkulu pada 5 Februari 1923 ini berhasil menginspirasi hidup saya lewat penampilannya yang anggun, dan juga memiliki ketegasan yang tak mudah ditaklukan Soekarno. Ia menolak untuk dimadu hingga mengajukan syarat berat kepada Bung Karno yang hendak mempersunting dirinya.  "Ceraikan istrimu jika ingin menikahi aku. Pernyataan ini yang menjadikan dia sebagai sosok anti-poligami," ujar nya. Syarat itu akhirnya dipenuhi dengan menceraikan Inggit Garnasih, perempuan asal Bandung. Dari dirinya lah saya mendapatkan motivasi hidup bahwa wanita juga harus memiliki harga diri yang tinggi. Sudah bukan waktunya untuk tertunduk mengikuti perintah pria yang seharusnya tidak untuk kita lakukan.

    Selain itu, beliau memiliki sifat bijaksana dan mampu menuntun bahkan mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. Perjalanan sepasang merpati penuh cinta itu akhirnya dikaruniai lima putra-putri, yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Sifat itulah yang harus saya ambil dari dirinya, karena akan ada waktunya saya akan bersanding menjadi seorang ibu dan harus memiliki sifat yang bijaksana dalam membesarkan seorang buah hati didalam suatu keluarga yang harmonis.

    Suatu hari pada bulan Oktober tahun 1944, Fatmawati didatangi seorang perwira Jepang. Saat itu Fatmawati sedang hamil tua (anak yang kemudian lahir tanggal 3 November 1944 itu diberi nama Guntur). Perwira Jepang tersebut membawakan dua blok kain, warna merah dan putih. Fatmawati berkata, “Yang satu blok berwarna merah sedangkan yang lain berwarna putih. Mungkin dari kantor Jawa Hokokai.” Kain itulah yang kemudian jadi cikal bakal Bendera Pusaka. Fatmawati menjahit sendiri bendera tersebut dengan mesin jahit tangan. Bukan dengan mesin jahit kaki karena saat itu sudah tak diperbolehkan lagi.

    Bisa dibayangkan betapa giatnya beliau melakukan hal tersebut hanya demi Kemerdekaan Indonesia yang telah lama dinanti nanti. Hamil tua bukan halangan baginya untuk terus berjuang demi Kemerdekaan Indonesia.  Kala itu Fatmawati menjahit sambil menitikkan air mata. Fatmawati terisak karena tak mempercayai pada akhirnya Indonesia bisa merdeka serta punya bendera dan kedaulatan sendiri. Membayangkan bagaimana saat itu Indonesia akhirnya merdeka setelah bertahun-tahun dijajah pasti rasanya bahagia campur haru, ya.

    Hari Jumat di bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur kala, embun pagi masih menggelantung di tepian daun, para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Tepat pukul 10.00, dengan suara mantap dan jelas, Soekarno membacakan teks proklamasi, pekik Merdeka pun berkumandang dimana-mana dan akhirnya mampu mengabarkan Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia. Kalau ada yang bertanya, apa peran perempuan menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan? Tentu kita akan teringat dengan sosok Fatmawati, istri Bung Karno. Dialah yang menjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Beliau dengan sikapnya yang inisiatif bergegas menyiapkan bendera Merah Putih tanpa harus menunggu perintah dari sang suami dan para tokoh lainnya.  dSetel'ah itu, ada seorang pemudi Trimurti yang membawa nampan dan menyerahkan bendera pusaka kepada Latief Hendraningrat dan Soehoed untuk dikibarkan. Dan, semua hadirin mengumandangkan lagu Indonesia Raya di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Pada hari itu, Ibu Fatmawati ikut dalam upacara tersebut dan menjadi pelaku sejarah Kemerdekaan Indonesia.

    Dan hal yang paling mengejutkannya, Fatmawati dan Bung Karno tidak pernah merayakan ulang tahun perkawinan. Alasannya sederhana, keduanya tidak pernah ingat kapan menikah. Sebab, saat pernikahan berlangsung, perang juga gencar dilaksanakan.  "Kami tidak pernah merayakan kimpoi perak atau kimpoi emas. Sebab, kami anggap itu soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan persoalan besar dan hebat," begitu cerita Ibu Fatmawati di buku Bung Karno Masa Muda. Dari sikap itulah saya belajar untuk terus menghargai sesuatu hal yang lebih penting dari pagi hal sepele yang tidak akan ada habisnya datang dihidup kita tanpa bisa merubah derajat hidup kita sekalipun.




0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Inspiring Story

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger